Dasi Yang Miring

 


“Dasi yang Miring” (Cerpen Fiksi)

 

Pagi itu, lift di gedung pusat bisnis Jakarta berhenti di lantai dasar. Seorang pria berjas abu-abu, berusia empat puluhan, masuk sambil menatap layar ponsel — wajahnya tegang, mata tajam, seolah angka-angka di layar itu menentukan hidupnya.

Namanya Handoko, CEO perusahaan penyedia perangkat IT yang sedang naik daun. Semua orang mengenalnya sebagai lelaki ambisius, keras, dan… dingin.

 

Sebelum pintu lift menutup, terdengar suara langkah tergesa.

“Maaf, tahan dulu!”

Seorang wanita anggun masuk, mengenakan blazer putih dan rok hitam sederhana. Aroma parfumnya lembut, menyisakan jejak elegan.

“Lantai berapa?” tanya Handoko.

“Lima belas. Terima kasih,” jawabnya dengan senyum tipis.




 

Lift bergerak. Hening. Hanya suara lembut musik instrumental dari speaker.

Tiba-tiba wanita itu menatap Handoko, lalu berkata pelan,

“Pak… dasinya agak miring.”

Handoko tertegun. “Oh—” Ia buru-buru membetulkan, tapi justru makin berantakan.

Dengan sopan, wanita itu mendekat sedikit. “Boleh saya bantu?”

Ia merapikan simpul dasi itu, gerakannya tenang, lembut, dan entah mengapa, terasa menenangkan.

 

Saat lift berhenti di lantai delapan, Handoko hanya sempat berkata lirih,

“Terima kasih…”

Pintu menutup. Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Handoko merasa jantungnya berdetak tidak karena tekanan kerja.


Hari itu kantor terasa berbeda. Angka di layar monitor tak lagi memikat. Target terasa hambar. Handoko kehilangan fokus — sesuatu yang belum pernah terjadi.

Ia memanggil dua orang ke ruangannya: Jefri, si marketing flamboyan, dan Ibu Endah, karyawan senior yang entah mengapa masih bertahan di perusahaan meski kinerjanya sering santai.

 

“Pak… kami salah apa ya?” tanya Jefri cemas.

“Tidak. Saya cuma… ingin konsultasi.”

“Lho, konsultasi?” Ibu Endah hampir menjatuhkan rajutannya.

Handoko menatap meja. “Bagaimana kalau seseorang… tiba-tiba merasa… tertarik?”

 

Keheningan panjang. Lalu Jefri tersenyum lebar.

“Wah, akhirnya juga, Pak! Bos jatuh cinta!”

“Cinta apanya. Saya cuma—”

“Tolong ceritakan dari awal,” potong Ibu Endah penuh semangat.

 

Seisi kantor pun mendengar rumor itu. “Bos Handoko jatuh cinta!” menyebar lebih cepat daripada promosi produk baru. Ada yang tidak percaya, ada yang girang, ada yang sudah menyiapkan taruhan kecil.


Keesokan harinya, seluruh kantor membantu operasi rahasia: “Misi Mendekati Gadis Lift.”

Jefri, sebagai playboy profesional, menjadi konsultan utama.

“Bunga mawar merah, jas biru, dan tatapan yakin,” katanya.

“Kalimat pembuka harus lembut tapi maskulin,” tambahnya.

Ibu Endah menyumbang rajutan pita kecil untuk diselipkan di buket bunga.

Dan Handoko — yang biasanya mengatur strategi bisnis miliaran rupiah — kali ini berdiri di depan cermin, berlatih senyum.

Hasilnya? Masih kaku.


Sore itu, Handoko naik ke lantai 15, membawa setangkai bunga dan hati yang berdebar.

Resepsionis menyapanya, “Selamat sore, Pak. Ada yang bisa dibantu?”

“Saya ingin bertemu… Mbak Lastri.”

“Sebentar ya, Pak. Oh, tapi… sudah ada tamu lain yang menunggu beliau.”

 

Handoko menoleh. Di kursi ruang tunggu duduk seorang pria muda membawa bunga juga — wajahnya lembut, tatapannya penuh penyesalan. Namanya Gabriel.

Lastri keluar dari ruangannya, dan seketika senyumnya mekar melihat pria itu.

“Gabriel… kamu datang?”

“Maafkan aku, Lastri…”

Mereka berbicara lirih, namun cukup bagi Handoko untuk mengerti: wanita itu masih mencintai orang lain.

 

Handoko menunduk. Bunga di tangannya terasa berat. Ia berbalik dan kembali ke lift, menatap bayangannya di cermin logam.

“Bahkan dalam cinta pun… saya gagal efisien,” gumamnya pahit.


Kantor kembali dingin. Handoko seperti semula: kaku, cepat marah, menuntut hasil.

Namun sore itu, saat matahari menuruni gedung-gedung kaca, ia berdiri di depan jendela besar kantornya.

Di bawah sana, Jefri terlihat tertawa bersama dua wanita yang menjemputnya.

Ibu Endah berjalan pelan ke mobil Mercedes tua, dijemput suaminya yang tampak sabar menunggu.

Dua ekor kucing bermain kejar-kejaran di trotoar.

 

Handoko tersenyum samar.

“Mereka semua punya seseorang,” pikirnya. “Dan aku sibuk mengejar angka.”

 

Ia menatap layar laptopnya — angka-angka yang selama ini jadi kebanggaannya terasa hampa.

Malam itu, ia mengetik email dengan subjek:

 

‘Pengumuman: Gathering Perusahaan Pertama Kali Sejak 10 Tahun Terakhir.’


Seminggu kemudian, seluruh karyawan berkumpul di taman belakang gedung.

Ada musik, makanan sederhana, dan… tawa.

Handoko berdiri di panggung kecil, berbicara dengan nada yang belum pernah terdengar sebelumnya.

“Selama ini saya pikir target dan laba adalah segalanya. Tapi ternyata… tidak. Saya belajar, ada yang lebih penting — rasa, perhatian, dan kebersamaan.”

 

Di antara kerumunan, Lastri lewat.

Ia berhenti sejenak, menatap Handoko dari jauh, lalu tersenyum.

“Dasi Pak lurus sekarang,” katanya ringan sebelum berlalu.

 

Handoko membalas senyum itu.

Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sendiri.

Dan siapa tahu — mungkin, cinta kedua dimulai bukan dengan bunga, tapi dengan dasi yang lurus dan hati yang siap terbuka.

Sudah tiga bulan sejak acara gathering pertama perusahaan itu diadakan.

Suasana kantor berubah.

Orang-orang kini tersenyum lebih sering, bahkan Handoko — sang CEO yang dulu menakutkan — sesekali terlihat bercanda dengan stafnya.

Tapi di balik senyum itu, ada ruang kosong yang masih belum terisi.

 

Pagi itu, lift kembali menjadi saksi.

Handoko masuk seperti biasa, kali ini dasinya rapi sempurna. Tapi sebelum pintu tertutup, suara sepatu hak tinggi terdengar lagi.

Sebuah kebetulan? Atau mungkin, sesuatu yang disusun diam-diam oleh semesta?

 

Wanita itu — Lastri — masuk dengan senyum sopan.

“Ah, kita bertemu lagi,” katanya ringan.

“Ya,” jawab Handoko, agak kikuk. “Dan kali ini… dasi saya sudah benar.”

Lastri tertawa kecil. “Saya lihat, Anda belajar cepat.”

 

Lift bergerak. Tidak ada percakapan panjang. Tapi diam mereka terasa nyaman.

Ketika pintu terbuka di lantai delapan, Handoko berani berkata,

“Kalau tidak sibuk, mungkin kita bisa… minum kopi sore ini?”

Lastri menatapnya sebentar, lalu mengangguk. “Kenapa tidak?”


Mereka bertemu di sebuah kafe kecil di bawah gedung — tempat yang biasa dipenuhi pekerja kantoran menunggu macet reda.

Lastri datang dengan gaya sederhana, tapi pesonanya tetap sama.

Obrolan awal canggung, tapi perlahan mengalir: tentang pekerjaan, tentang tekanan hidup di kota besar, tentang kehilangan dan perubahan.

 

Lastri bercerita bahwa Gabriel benar-benar pergi, memilih karier di luar negeri.

“Awalnya saya merasa hancur,” katanya. “Tapi mungkin memang harus begitu, supaya saya bisa menemukan versi diri saya yang lebih kuat.”

Handoko mengangguk. “Saya juga baru sadar… saya sibuk membangun perusahaan, tapi lupa membangun hati.”

 

Sore itu, tawa mereka pecah untuk pertama kalinya.

Bukan tawa yang keras, tapi tulus.

Dan di momen itu, sesuatu di dalam Handoko mengendur — beban, kesepian, dan cara berpikirnya tentang cinta yang dulu terasa seperti transaksi.


Hari demi hari berjalan.

Handoko mulai sering terlihat berjalan ke lantai 15 “kebetulan” untuk urusan jaringan kantor yang sebenarnya bisa dikerjakan staf IT.

Ibu Endah mulai menggoda, “Pak, saya lihat kabel LAN di atas sering banget rusak ya belakangan ini.”

Sementara Jefri dengan licik berkata, “Kalau cinta udah konek, Wi-Fi aja kalah cepat, Pak.”

 

Semua orang tahu: bos mereka sedang jatuh cinta lagi.

Tapi kali ini, bukan cinta yang terburu-buru.

Handoko belajar menikmati prosesnya.


Suatu malam, saat kota Jakarta tenggelam dalam lampu dan hujan tipis, Lastri menerima pesan dari Handoko:

 

“Saya tidak pandai berkata manis. Tapi saya tahu, saya lebih tenang kalau tahu kamu baik-baik saja.”

 

Lastri membalas dengan emoji kopi dan tulisan singkat:

 

“Saya sedang di kafe, seperti waktu itu. Kalau mau, saya simpan kursi di sebelah.”

 

Handoko datang. Basah oleh hujan, tapi senyumnya hangat.

Mereka duduk berdua, menatap jalanan yang memantulkan cahaya neon.

 

“Lucu ya,” kata Lastri, “cinta bisa datang di lift yang sempit dan berakhir di kafe kecil begini.”

Handoko menatapnya lama. “Cinta tidak pernah butuh ruang besar, Lastri. Yang penting… ada yang mau diam di dalamnya.”

 

Mereka tertawa.

Dan di luar sana, hujan turun lebih deras — seolah langit sedang ikut merayakan dua hati yang akhirnya menemukan arah yang sama.


Beberapa minggu kemudian, Lastri datang ke acara kantor Handoko, kali ini sebagai rekanan desain untuk produk korporat.

Saat ia melangkah ke ruangan, semua karyawan bertepuk tangan kecil — bahkan Ibu Endah berbisik ke Jefri,

“Lihat tuh, bos kita bukan cuma target oriented sekarang, tapi hati oriented.”

 

Handoko menatap Lastri dari jauh, senyum mereka bertemu di udara.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Handoko merasa:

Ia telah menemukan keseimbangan antara kerja keras dan cinta yang lembut.

 

Bukan lagi tentang dasi yang miring atau lurus.

Tapi tentang hati yang akhirnya menemukan tempat pulangnya

 



 


Komentar

Postingan Populer