Di Minangkabau disebut NAGARI

Tahukah anda kata kata Nagari?, jika di sebagian besar wilayah Indonesia kita mengenal tingkat paling rendah pemerintahan adalah Desa, Di Sumatera Barat yg bisa kita sebut terlingkup dalam wilayah Minangkabau Zaman dahulu, tingkat terendah itu adalah Nagari. Pada saat sekarang pola susunan pemerintahan di Minangkabau atau sekarang Suamtera Barat mengikuti pola pemerintahan pada umumnya, yaitu Propinsi dibawahnya kabupaten dan kota kemudian Kecamatan. Perbedaan yg paling bawah adalah, Nagari menjadi tingkat terendah jika bagian dari daerah kecamatan dibawah daerah tingkat II yg disebut Kabupaten dan Kelurahan apabila bagian dari kecamatan di bawah daerah tingkat II Kota ( dulu kita menyebut Kotamadya )

Mengapa disebut Nagari

Untuk System pemerintahan terendah di Sumatera Barat sempat mengalami penyebutan yg sama dengan daerah yg lain jika daerah tersebut adalah bagian dari Kecamatan yg merupakan wilayah Kabupaten,



Yaitu Pada rentang tahun awal 1980an sampai tahun 2005. Dengan perubahan pola tersebut berakibat berubahnya pola struktural di masyarakat, di mana tadinya sebuah Nagari di pimpin oleh seoarang Wali Nagari dan sangat kental dengan aturan bersama Ninik Mamak Cadiak Pandai dan alim ulama, berubah ke pola pemerintahan Desa seperti struktur yg di pakai di daerah lain.  Sebuah Nagari tadinya terdiri dari beberapa Jorong. Jorong inilah yang di jadikan Desa oleh pemerintah saat itu, sehingga jumlah pemerintahan desa membludak jumlahnya. Bertahun dirasa di Minangkabau atau di Sumatera Barat berasa tidak seperti dalam akar budayanya, dicanangkanlah kembali untuk Kembali ke system Nagari, diharapkan apa apa yg di jalankan sebelumnya bisa di kembalikan, mungkin sedikit terlambat tetapi sekarang tingkat pemerintahan tersebut sudah kembali ke Nagari dengan wilayah yg sama dengan sebelumnya, desa kembali di jadikan Jorong. Memang jika dirasa beberapa Nagari dalam sebuah kecamatan itu memiliki ciri khas masing masing dialek bahasa sendiri, cara menyelenggarakan adat, masakan serta budaya budaya yg lainnya, walau secara keseluruhan ada kesamaan tetapi antar nagari merupakan komunitas komunitas tersendiri dengan ciri khasnya terutama dialek.

Bagaimana Situasi Di Nagari

Penulis belum pernah menelusuri semua nagari di Minangkabau, berasal dari Kabupaten Solok, di mana Kabupaten ini sendiri terdiri dari 12 kecamatan dan di bawah kecamatan tersebut terdapat 75 Nagari.  Kecamatan di Sumatera tidak bisa kita bayangkan sebagaimana dengan Kecamatan yg ada di Jawa terutama Jabodetabek.  Contohnya saja, tempat berdomisili saya sekarang adalah Kecamatan Larangan. Tinggal di daerah ini sejak  Januari 2012 yg saya tahu ini adalah daerah Ciledug, setelah ngobrol dengan orang2 disini, Kecamatan Larangan merupakan Pemekaran dari Kecamatan Ciledug, dalam arti kata luas wilayahnya setiap kecamatan menjadi lebih kecil.  Berbeda dengan Kecamatan di daerah Sumatera khususnya Kecamatan kecamatan yg ada di Kabupaten Solok. Wilayahnya bisa dibilang luas dan terdiri dari 5 Nagari, mungkin bisa dikatakan satu Nagari disana lebih luas dari satu kecamatan di area Jabodetabek.
Baiklah kita kembali ke topik Nagari, Suatu wilayah Nagari di pimpin oleh Wali Nagari, yang dipilih secara langsung oleh masyarakat, jadi seperti Pemilu disini Disebut Pilwana. Dan tidak kalah dengan level Pemerintah Daerah, di nagari juga memiliki semacam perwakilan masyarakat.  Hal yg membedakan nya adalah di Nagari ada sebuah fungsi adat yaitu KAN, Kerapatan Adat Nagari dimana fungsi kepala ada juga sangat signifikan.

Didalam Nagari diisi komunitas yg mana kita kenal di Minangkabau Komunitas Keluarga yg di sebut Suku. Kaum materilinial terbesar didunia ini memiliki beberapa suku dan tersebar diseluruh Nagari.

Nama Nama Suku di Minangkabau
1. Caniago.
2. Malayu
3. Sikumbang
4. Piliang
5. Jambak
6. Kutianyi
7. Pisang
8. Pagacancang
9. Tanjuang

ada lagi nama nama yg merupakan pecahan suku tersebut tapi yg ditulis diatas adalah suku di Minang pada umumnya.

Suatu suku memiliki Pemimpin yg disebut Datuk, di sebuah Nagari dari gelar Datuk nya orang atau masyarakat akan langsung mengenal. i dari suku mana. Semua Masalah keluarga warisan perkawinan dan lain lain biasanya di musyawarahkan dengan kepala suku dan tetua suku, untuk mengambil keputusan lalu hal adminsitrattive dari keputusan tersebut agar legal akan dapat dukungan surat dari pemerintahan Nagari. Didalam suku tersebut juga memiliki struktur sendiri

1. Datuk                    : Sebagai penghulu Pucuk
2. Pakieh                  : sebagai orang yg dianggap memahami agama dalam suku 
3 Dubalang         : Sebagai orang yg dianggap kuat/kalo sekarang jagoannya dalam suku
4. Bundo kanduang    : Perempuan yg senior didalam suku 

Uniknya di Minangkabau tidak lazim orang menambahkan nama suku setelah namanya, sebenarnya nama di sumatera barat jaman dahulu kebanyak satu kata dipengaruhi oleh budaya  islam dengan tambahan bin atau binti. Sekarang nama itu berubah mengikuti nama nama sebagaimana lazimnya nama di indonesia.  Jadi tidak lazim jika ada nama John Caniago (contoh saja) atau Hendri Tanjuang (contoh saja). Karena nama kecil tidak akan dipanggil lagi jika di dalam nagari apabila laki laki sudah menikah, dianggap sudah dewasa jadi diberi gelar, gelar ini dipakai turun temurun. Seorang laki laki di Minangkabau akan memakai gelar yg sama dipakai kakek dari ibu atau paman saudara ibu yg sudah tiada. jadi ini akan berlangsung terus menerus. Sehingga masyarakat dalam nagari akan tahu suku seseorang dari gelar yg diberikan ke dia .  Tentu saja zaman sekarang hal ini cukup sulit ditemui terutama bagi Nagari2 yg berada di bawah Kabupaten berbatasan dengan daerah dibawah pemerintahan Kota. Banyak sekali budaya yg sudah tidak dikenal oleh masyarakatnya.

Untuk sekedar mengenalkan situasi sebuah Nagari, dalam hal ini adalah nagari asal Penulis sendiri. Yaitu sebuah Nagari yg di sebut Nagari Muara Panas. Nagari Muara panas merupakan Ibu Kota kecamatan Bukit Sundi. Di Kecamatan ini ada Nagari Bukit Tandang, Dilam, Parambahan dan Kinari jadi ada 5 Nagari. Tentu saja setiap Nagari ada ciri Khasnya masing masing.


-




Di Nagari Muara Panas terdapat sebuah Pasar yg merupakan kelolaan dibawah Nagari, yaitu pasar tradisional setiap hari senin. Pasar ini hanya ada di hari Senin disebut pasar Sanayan atau Pasar Senen. Di hari Senin anda tidak akan bisa meminta orang bekerja untuk bertukang, berkebun dan lain lain, karean pada hari ini orang kepasar. Buat kaum ibu ibu ini adalah hari berbelanja untuk kebutuhan satu minggu dan bagi laki laki, ini semacam hari nongkrong, bagi muda muda hari ini semacam  ajang cari Jodoh. Penulis mencoba membawa pembaca ke era tahun 70an - akhir 80an atau awal 90an. 

% '. Ó'



Pasar setiap minggu ini terbagi setiap area jadi ada Pasar Senin, Pasar selasa, pasar Rabu, Pasar Kamis, Pasar Jumat, Pasar Sabtu dan Pasar Minggu. Hari pasar ini di Nagari yg berbeda beda tetapi hanya ada di Nagari yang besar, unik nya lagi adalah pedagang nya hampir sama disetiap hari pasar tersebut. Seorang pedagang cabe akan memutar ke setiap hari pasar tersebut.  Demikian juga Pedagang komoditi yang lain. Jadi kalo kita tidak sempat makan jajanan khas yg kita suka di hari pasar senen, kita bisa hunting ke area lain di pasar Selasa. 





Tapi kalo anda ingin membeli ternak, seperti sapi, kerbau, kambing bahkan beruk, yg paling besar se Sumatera Barat adalah Pasar Ternak di Pasar Senen  Nagari Muara panas.

Kalo ada yg tanya, Jual Beruk? ya, mungkin banyak yg tidak tahu di sumatera barat beruk di latih utk memetik kelapa. Beruk yg di jual di pasar beruk itu biasanya belum terlalu profesional ( terlatih) dan umurnya belum tua. Karena nanti akan di beli oleh tuan nya yg baru, kalo disana di sebut tukang beruk. Setelah dimiliki akan dilatih bahkan kita sedikit iba melihatnya, Hal yg menarik adalah, Tukang beruk akan di panggil untuk memetik kelapa di satu kebun kelapa, penulis masih ingat setiap 10 butir kelapa upahnya satu butir kelapa. Dalam hal ini kelapa tua siap di jadikan bahan makanan memasak atau untuk hal lain. Suasana memetik kelapa ini yg paling di tunggu adalah saat pohon terakhir, si tukang beruk akan memerintahkan Beruk memetik kelapa muda juga selain kelapa tua tadi, Biar bisa diminum airnya dan dimakan isinya bersama pemilik kebun.  Hal ini kadang jadi tontonan bagi pendatang atau orang yg belum pernah tinggal di Sumatera Barat. 



, l
Kehidupan masyarakat saat itu didominasi dengan pertanian, peternakan berkebun dan berdagang. Individu yg berkarir sebagai PNS masih belum banyak apalagi bekerja di sektor swasta. jadi dengan hampir 90% lebih masyarakatnya adalah petani, situasi ekonomi sosial budaya sangat berbeda. Seperti yg digambarkan diatas, pada hari senin semua orang seperti hari libur, shopping dan Nongkrong kalo kita istilahkan utk zaman sekarang. Kegiatan bekerja akan kembali aktif di hari Selasa sampai hari Minggu disela sela mereka juga melakukan tanggung jawab social terutama utk perhelatan perkawinan.

Satu hal yg masih teringat dalam segar dalam pikiran penulis bagaimana pesta pernikahan dipersiapkan, ini adalah salah satu kegiatan dan tanggung jawab sosial yg sangat penting. 

Perjodohan dalam budaya minang apalagi di rentang tahun yg disebutkan itu adalah hal yg sangat biasa, diawali dengan pendekatan antar paman (mamak) dari calon mempelai, dimana paman ini adalah saudara ibu atau orang yg dianggap senior dalam suku. Biasanya di keluarga akan dibicarakan bahwa anaknya sudah saat menikah dan sudah saatnya dicarikan Jodoh, dilakukan rapat atau musyawarah keluarga, kira kira siapa yg akan dijodohkan dengan keponakannya. Lalu bapaknya sianak ngapain, kalo yg mutusin semua paman, tentu tidak, bapaknya sianak dilibatkan tetapi yg akan melakukan banyak hal adalah sipaman dari saudara ibu. Sang paman akan mendekati paman dari kandidat yg dianggap pantas atau cocok buat keponakannya. Mereka akan berbicara tetapi itupun tidak to the point, sebagaimana zaman itu diawali dengan kata kata seperti meraba, karena harus tahu dulu apakah si kandidat itu sudah memiliki calon atau juga sedang di jodohkan dengan orang lain. Pertanyaannya? emangnya tuh anak ga pacaran?? ga cari jodoh sendiri?? jawabanya tidak, sangat memalukan jika bukan pasangan suami istri bepergian, berboncengan bahkan sekedar berbincang2. Jadi curious kan gimana Zaman itu?

.





Oh ya satu lagi yg perlu di ketahui, pernikahan di suatu nagari itu tidak boleh dari suku yg sama, harus berbeda suku. Jadi orang di Minangkabau dipastikan menikah bukan dengan saudara dekat, karena harus berbeda suku. 

Oke kita lanjutkan cerita pernikahan, Jika masing masing paman ini setuju satu sama lain, mereka akan kembali kekeluarga masing masing dan menanyakan ke anaknya Saat itu jarang sekali ada yg menolak karena mereka percaya calon pilihan keluarga sudah di pertimbangkan dengan sangat baik, kalo di jawa kita kenal Bebet Bibit Bobot, begitu juga di Minangkabau. 

Jika hari pernikahan sudah disetujui, biasanya begini, menyiapkan makanan di hari Sabtu perhelatan di hari Minggu. Jadi 2 hari? puncaknya 2 hari tapi processnya jauh2 hari, mulai dari minta restu ke semua anggota kelauarga suku dan pembicaraan sumbangan dari keluarga terdekat, ada yg menyumbang kelapa 100 butir misalnya, ada yg nyumbang beras beberapa karung ada yg menyumbang uang. Tetapi biaya utama tetap dari keluarga inti. 

Hari Minggu sebelum nya akan dilakukan musyawarah pembagian kerja. 
1. Team belanja di hari senin
2. Team yang akan mengundang orang, saat itu disebar beberapa anggota keluarga utk menyambangi rumah orang orang  yg diundang yaitu, menyiapkan makan di hari sabtu perhelatan di hari Minggu.
3. anak anak dari paman dan keluarga dekat menyiapkan tungku tungku dari batu buat memasak dengan kuali besar serta tenda, zaman itu belum ada sewa tenda jadi harus menebang bambu serat membuat atap rumbia buat para tamu karena ga akan mungkin cukup dirumah..
biasanya persiapan ini sampai hari kamis.





Kamis malam ada yg sebut namanya malam membuat Limas, sebuah wadah yg dibuat dengan daun pisang yg nanti dipakai buat menempatkan gulai nangak, rendang, kerupuk dll wadah ini nanti untuk membawa makan pulang jadi semacam disposable ramah lingkungan. Walaupun bentuk di bawah tidak persis 100% tapi saat itu setiap tamu akan di beri 4-5 Limas dari daun ini untuk membawa beberapa jenis masakan sebagai tanda terima kasih dari tuan rumah karena sudah ikut berpartisipasi di pesta pernikahannya. Kalau zaman sekarang semua serba dibungkus plastik.




Dihari jumat biasanya saat ini dilakukan akad nikah di mesjid atau surau terdekat, dilaksanakan setelah dilaksanakan waktu sholat Jumat dan akad nikah disaksikan banyak orang, kebayang kalo lagi aqad nikah gagap atau gak lancar? satu kampung akan mengingatnya, pada hari ini keluarga makin ramai dirumah mempelai dan saudara jauh akan menginap.  Malam nya disebut malam Bainai, yaitu semacam mewarnai kuku bagi pengantin wanita, biasanya saat ini dipanggil kesenian tradisional, selawat dulang atau saluang.. utk menemani saudara saudara yg sudah mulai memasak sampai tengah malam, dan anak anak bermain dengan gembira karena dipenuhi penerangan yg baisanya tidak seperti ini.





Sabtu pagi, ini semacam show up, yaitu disaksikan bersama pemotongan sapi atau kambing sebagai lauk utama di perhelatan, pemotongan sapi ini mengundang petinggi suku dan dari suku lain di nagari tersebut, dan pagi itu juga disediakan masakan utk makan bersama. Dihari  Sabtu tersebut para kaum ibu baik dari satu suku maupun bukan akan menyiapkan makan bersama. Selama menyiapkan proses makan ini, memasak ditungku, menyiapkan sesuatu didalam rumah, kita akan tahu status atau hubungan orang ini dengan pihak yg sedang melakukan perhelatan, apakah dia jatuhnya sepupu,, atau dia hubungan bako dengan pihak pengantin atau di adalah hubungan ipar dengan tuan rumah, jadi tidak bisa asal bantu bantu atau duduk atau berdiri dimana. Hal ini didalam nagari harus sangat dipahami kalo tidak akan jadi bahan tertawaan dan dianggap tidak tahu adat.


L




Hari minggu adalah hari puncak, karena di rumah perempuan mempelai pria didatangkan utk semacam upacara serah terima dari suku nya pria ke rumahnya perempuan diterima secara resmi oleh sukunya perempuan.  Akan ada semacam pembicaraan antar juru bicara yg penuh dengan pepatah petitih seperti berbalas pantun, kedua juru bicara ini harus sangat bagus dalam mengkomunikasikan dan menyampaikan pesan dari keluarga masing. Misalnya dengan rendah hati pihak mempelai pria mengatakan, anak dan keponakan saya masih muda umur belum lebih tua dari setandan pinang (artinya belum banyak pengalaman hidup), jika nanti ada yg kurang berkenan tolong dipahami harta juga tidak lebih dari sekedar makan, artinya dia juga tidak kaya, jadi terimalah apa adanya, karena nanti mempelai pria akan tinggal di rumah wanita sebagaimana adat dan budaya Minangkabau. 

 Disini akan sangat terasa betapa sakral dan terhormatnya sebuah pernikahan, satu kampung mengetahui anda menikah dengan sah sesuai dengan adat dan sesuai dengan agama islam. Acara serah terima secara adat ini ditutup dengan makan bersama, lau selesai? belum, setelah itu kedua mempelai diarak sepanjang kampung utk pengumuman bahwa 2 orang ini sudah resmi sebagai suami istri lalu arak arakan ini berakhir dirumah mempelai pria, dirumah pria diadakan lagi pengenalan pengantin wanita tapi tidak selama proses yg tadi. Setelah berakhir mempelai wanita kembali pulang, mempelai pria belum ikut. Mempelai pria akan ke rumah istrinya utk pertama kali belakangan dan itu harus di jemput oleh pihak perempuan, sebagai bentuk kehormatan pihak keluarga wanita dan sebagai ucapan selamat datang.

.
'

..



Melelahkan bukan? ya sangat lelah rata rata keluarga mempelai kedua belah pihak menderita gak enak badan setelah acara pesta pernikahan tapi dalam kedaan hati bahagia, anak sudah menikah dan mereka menunggu keturunan.

Jadi pada saat itu semua dilakukan dengan gotong royong dan swadaya sendiri dari anggota keluarga inti dan suku. Di sela sela masyarakat menjalani dan memenuhi kehidupan bertani berkebun berternak atau berdagang, mereka tidak lupa dengan fungsi sosial dan menyelenggarakan budaya.

Keadaan Lingkungan di Nagari saat itu sangat asri, kita mandi disungai dengan air yg jernih, bermain disungai adalah hal yg sangat disukai karena sebagaimana anak sekarang suka main air. Nagari Muara panas di belah oleh batang lembang yg membentang melewati berbagai kota kabupaten dan berakhir di Danau Singkarak.  Sebuah Muara di Hulu tempat pertemuan 2 sungai yg airnya bergantian panas dan dingin yg membuat daerah ini disebut Muarapanas. Batang Lembang menjadi sumber untuk irigasi dan di beberapa tempat di manfaatkan penggerak kincir untuk menumbuk padi. Jika dihitung saat itu ada beberapa Kincir utk menggerakan sumbu penumbuk padi di beberapa area, sayang saat itu tidak memiliki kamera suasana sungai yg bersih dan kincir berputar sebagai teknologi yg dipakai saat itu adalah pemandangan yg sangat indah. Sekarang Kincir dan bangunannya itu hanya tinggal cerita, rata rata berubah menjadi Rice milling, area kincir itu biasanya dimiliki keluarga keluarga yg memiliki tanah di pinngir sungai, jika ingin tahu posisi kincir zaman dahulu cukup bisa tahu dari rice milling yg ada sekarang dengan posisi di pinggir sungai, semoga kita bisa menggambarkan lewat gambar.


..





Pemandangan indah sore hari tergambar dari suasana petani pulang dari sawah dengan latar belakang gunung Talang dan langit memerah. Beberapa sawah yg siap dipanen atau habis dipanen,  asap jerami yg mengepul memberikan bau yg sangat khas. Beberapa kali penulis pulang kampung sengaja pergi ke area pesawahan habis dipanen dan jerami dibakar hanya utk merasakan aromanya seolah olah kembali kemasa lalu. Jika semua sawah dipanen jeda utk musim tanam berikutnya area tersebut dimanfaatkan untuk bermain layangan, balap anjing atau lainnya. 



..



Di setiap area ada bermacam acara kebudayaan yg di lakukan menyambut musim panen atau mengawali musim tanam di pertanian, karena memang waktu itu kehidupan lebih banyak mengandalkan pertanian.  Seperti di daerah Batusangkar kalo tidak salah selalu ada pacu jawi dengan racingnya diarea pesawahan. Event tersebut menjadi salah satu kegiatan yg mengundang banyak turis baik lokal maupun internasional.




Sejak beberapa tahun lalu untuk meningkatkan kunjungan ke Sumatera Barat, ada namanya even tour Sepeda yaitu  Tour de Singkarak, dengan latar belakang danau Singkarak yang akan melintasi Kota kota dan daerah di seluruh Sumatera barat, lomba  ini diikuti oleh atlit atlit internasional. 





Demikian juga suasana yg berlatar belakang bertepatan dengan hari besar keagamaan yaitu bulan Ramadhan dan Hari Raya Idhul Fitri. Bulan Ramadhan atau bulan puasa adalah hal yg sangat ditunggu hampir disemua area nagari di Sumatera Barat.  Ditandai dengan perkiraan akan masuknya bulan Ramadhan untuk menjalani ibadah puasa. Bulan sebelum masuk itu disebut bulan Magang. Ternyata di daerah Aceh juga ada kata kata yg hampir sama Bulan Meugang. Disaat ini akan ada namanya persiapan belanja bahan makanan terutama belanja daging. Tujuannya macam macam, pertama bagi laki laki beberapa kilogram daging sengaja dia beli untuk di berikan kerumah Ibunya atau orang tuannya ibarat kata sebagai persiapan bahan makanan utk menghadapi bulan suci. Lalu ada tujuannya untuk Hantaran, Jadi bahan makanan ini akan di masak menjadi berbagai jenis masakan, rendang, gulai ikan, pergedel plus penganan seperti lemang. Semua akan di susun di sebuah Rantang, lalu akan di bawa berkunjung kerumah Paman, Bibi, saudara dll, jadi bisa saja jumlah rantangnya banyak sekali, dan itulah kenapa menghadapi bulan Ramadhan diperlukan banyak biaya cuma kalo tidak mampu saudara juga akan paham. Silaturahmi cukup berkunjung saat lebaran saja nanti. 











 Denyut suasana bulan Ramadhan ibarat festival selama satu bulan.  Malam pertama dimulai ramadhan secara serentak seolah olah warna hari hari di bulan itu berbeda, setiap malam diisi dengan ceramah dan pengajian Al Quran.  Situasi sholat Tarawih dengan orang yg ramai, mengubah suasana kampung yg tadinya sepi menjadi meriah. Memasuki minggu kedua, biasanya setiap Surau, Mushalla atau Mesjid mengadakan perlombaan baca ayat suci alquran, yg kita kenal dengan MTQ. Persiapan MTQ dilakukan dengan swadaya, panitia dibentuk utk penanggung jawab acara dan logistik. Persiapan ini semua dilakukan secara gotong royong dan dananya bersumber dari sumbangan masyarakat. Pada saat MTQ ini, merupakan ajang bagi murid murid MDA memperlihatkan skill mereka membaca Alquran dan tentu saja kesempatan mendapatkan hadiah, baik berupa barang atau uang saku jika mereka juara sebagai tambahan uang saku buat lebaran nanti. Beberapa keluarga akan melakukan buka puasa bersama dengan mengundang keluarga keluarga yg lain terutama apabila ada dari saudara mereka Mudik dari rantau, hal ini ini biasanya dimulai di minggu ketiga Ramadahan. Dan sebagaimana hal umum terjadi minggu ke empat Ramadhan orang orang mulai sibuk mempersiapkan menyambut Lebaran Idhul Fithri.  menyiapkan makanan, membeli baju baru dan membersihkan rumah untuk bersiap menerima tamu. Seperti yang disamapiakan diatas, denyut suasana Ramadhan sangat terasa itulah kenapa perantau Minang apapun yg terjadi mengusahakan pulang kampung untuk bersilahturami di kampung halaman.






Situasi jaman itu tentu saja jauh berbeda dengan keadaan sekarang, jaman itu boleh dikatakan satu nagari merupakan orang asli nagari tersebut.. sepuluh tahun terakhir nagari nagari di sumatera barat orang orangnya sudah berasal dari berbagai daerah, ini di karenakan banyak nya orang yg merantau, bertemu jodoh di rantau lalu di bawa pulang sehingga akan didapati tetangga sekarang dari orang Sunda, Ambon, Melayu, Palembang , Jawa dan lain lain, hal ini membuat suasana menjadi lebih berwarna terutama kuliner.  Sempat kaget ketika keponakan habis main pulangnya bawa makan seblak, dan pecel ayam sama sekoteng. Hal yg tidak pernah saya temui sebelumnya selama masih di kampung.  Penjual makanan gerobakan yg mkn hampir disemua daerah sekarang setiap malam sangat ramai berjualan, tapi bedanya, kalo dulu hanya goreng pisang atau makanan camilan khas Sumatera Barat, sekarang sangat bervariasi. Terjadi pertukaran budaya dan percampuran sebagaimana juga orang Minang merantau memperkenalkan masakan padang dimana mereka berada. Itu juga yg menyebabkan penggunaan bahasa Minang dengan bahasa Indonesia di sumatera barat hampir 50:50. Masyarakat mulai berbeda latar belakang dan berbeda, sesuatu hal yg terjadi hampir disemua daerah di Indonesia 

Suasana kehidupan sehari hari yg unik dan selain pesta pernikahan, juga banyak event penyelenggaraan kematian, meresmikan gelar Datuk, turun mandi anak baru lahir, suasana Sebelum dan selama Bulan Ramadhan. Suku dengan sistem Matrilinial terbesar didunia ini memberi warna yg cukup besar di sejarah Indonesia dan bagaimana adat nya terhubung dengan islam dengan sangat mudah sebagai agama yg 100% di anut oleh orang Minangkabau.

Tulisan adalah narasi dan sebagian kenangan untuk berbagi, belum lengkap karena banyak sekali hal yg ini sampaikan mengenai suasana disaat itu, setiap ada waktu penulis terus menambahkan tulisan sebagai sebua cerita untuk menemani bersantai. Semoga pembaca bisa tahu sedikit tentang suasana desa atau salah satu Nagari di Sumatera Barat







Komentar

Postingan Populer