20 years ALREADY
Bagi penutur bahasa Inggris yg proper kalimat judul diatas mungkin sedikit agak aneh dengan strukturnya. Tapi itulah slank berbahasa inggris hampir setiap hari akrab dengan telinga penulis. Kembali ke 20 tahun lalu saat mengambil keputusan bergabung dengan salah satu perusahaan milik warga Singapore yang invest di Indonesia establish sebuah perusahaan distributor alat kesehatan.
Masih teringat proses wawancara dan diminta datang ke sebuah hotel bintang lima di kawasan jalan Thamrin. Agak sedikit heran kenapa saya di panggil wawancara ke hotel? apakah mereka tidak memiliki kantor atau kantor nya jauh di kawasan industri di daerah timur Jakarta. Tapi sudahlah, setelah 4 tahun bekerja sebagai teknisi mesin dialysis, ada keinginan utk bekerja bertemu lebih banyak orang. Kali ini ad a kesempatan sebagai product support, dalam bayangan, akan banyak bepergian dan tidak fully berada di Technical service room. Ada beberapa kandidat duduk diruang tunggu lagi antri un'tuk diwawancara dan yg dibutuhkan hanya satu orang. Wah lumayan juga persaingannya ini.
Singkat cerita akhirnya bisa join dengan company dan surprise, ketika mereka menyampaikan bahwa anda diterima di perusahaan kami sebagai perwakilan kami di Indonesia. Ternyata kantor mereka di indonesia belum ada, hanya V office. Sedikit galau juga menghadapi situasi ini, tapi pekerjaanya sangat match dengan yg diinginkan. Konsultasi dengan teman bahkan saudara, mereka menganjurkan sebaiknya jangan ambil dan stay di perusahaan sekarang. Tapi mungkin ini ketetapan hati berat ingin gabung. Akhirnya menetapkan join dengan perusahaan yg kantor tidak ada diindonesia dan bertanggung jawab handling beberapa distributor di indonesia.
Singapore menjadi tempat percampuran budaya yang sangat beragam, terdapat orang melayu, tionghoa, arab dan eropa. Sejal lama jadi pusat perekonomian membuat daerah ini menjadi tujuan banyak individu untuk mencari nafkah. Selain itu berbagai perusahaan besar membuka perwakilan mereka disana, sehingga ini membuat Singapore berbenah dnegan standar hidup dan kualitas bekerja yg menyamai negara negara maju, bahkan dari segi biaya hidup beberapa kali dinobatkan sebagai kota termahal didunia, walaupun predikaet ini tidak disukai oleh teman teman dari sana.
.
Hal yg menjadi catatan adalah pengalaman bekerja dengan orang yg berbeda budaya dan kebiasaan, sikap dan kedisiplinan. Banyak hal yg yg harus di pelajari dan disesuaikan dengan mereka. Singapore merupakan negara kecil di Asia Tenggara, tapi sampai saat ini menjadi Hub lalu lintas perekonomian di Asia Tenggara. Selama 20 tahun bekerja dengan mereka dari tidak memiliki kantor sampai ada kantor di Jakarta dan cabang di beberapa kota besar di indonesia, sedikit banyak menjadi paham cara orang sana membangun bisnis. Mereka tidak simsalabim, mengerjakan segala sesuatu dengan goal ideal walau dalam proses eksekusi tidak 100% ideal. Tetapi menetapkan standar yg tinggi dalam sebuah proses salah satunya ' detail plan.
Jika kita mau propose something terutama jika ada menyangkut Cost dan tidak lengkap, usulan kita bisa dibalikin dengan koment yg agak pedas. Dalam hal berkomunikasi pun harus dibiasakan, kalo tidak biasakita akan beranggapakan mereka ketus tapi itu lah cara mereka. Singaporean adalah orang yg efekctif tapi bisa dibilang cukup stress. Karena mungkin keterbatasan wilayah sumber alam, membuat mereka mereka harus keep thinking whats next. Kehati hatian mereka dalam spending uang dalam proses berbisnis juga menjadi pelajaran bagi kita, semua base on proper thinking dan business impact.
Body moving yg menggambarkan hunting business, semua mesti serba cepat dan tepat untuk mengejar goal yg diinginkan, terus terang awalnya sangat keteteran, karena mereka beranggapan dengan bergabung dengan mereka its mean you understood our standar how to handle task or job. Berusaha memahami orang Singapore, dalam istilahnya kenapa seperti orang kurang sabar atau kita yang sangat santai. Dalam sebuah kesempatan ngobrol2 dengan teman dari Malaysia yg juga lama involve dengan mereka, jawaban dia sangat mengagetkan, teman ini bilang, orang Singapore terbiasa dilayani sangat cepat oleh pemerintah mereka. Jika mereka komplain sesuatu kepada pemerintah tidak menunggu lama akan di respon dan action. Kebiasaan mendapat respon yg cepat itu mempengaruhi cara mereka berkomunikasi, seperti e-mail atau pesan, paling tidak kita response dulu dan janjikan waktu yg jelas kapan bisa memberikan jawaban detail. Mungkin itu juga yg membuat mereka maju pesat kali ya, membuat perkapita penduduknya jadi tinggi, setiap mencapai sesuatu selalu berpikir besok gimana, bulan besok gimana tahun depan gimana sehingga ini menjadi pola pikir yg selalu menekan diri mereka untuk selalu lebih baik.
Besok harus lebih baik atau kedepannya harus lebih baik, bisa kita lihat juga secara tidak langsung dari tampilan Singapore itu sendiri. Mereka selalu berpikir apa yg baru untuk di munculkan, apa yg bisa diimprove utk lebih baik dan lebih memudahkan lagi,sebenarnya ini bukanlah prinsip baru, tapi prinsip yang sudah kita dengar sejak kecil dan semua orang indonesia juga tahu, tapi bedanya adalah dalam hal mempraktekkan prinsip tersebut. Hal hal sederhana yang sudah kita tahu sejak dulu dan sudah jadi pengetahuan umum bagi kita yang pasti adalah eksekusi dalam menjalankan prinsip. Singapore adalah negara mengandalkan service atau jasa, tidak ada orang yg datang ke Singapore untuk naik gunung, wisata alam dan lain lain, keterbatasan ini membuat mereka berpikir keras bersaing dengan negara sekelilingnya yg lengkap memiliki bermacam area wisata yg menjadi favourite pagi pelancong. Contoh mudahnya adalah Bandara Changi, 2 terminal jadi 3 terminal dan jadi 4 terminal lalu ada Jeress yg sangat terkoneksi dengan bandara, lalu suasana terminal selalu diimprove, sepertinya ada sebuah team yg selalu melihat meneliti apa kebutuhan penumpang. Tujuannya segala sesuatu agar mudah bagi pendatang. Pernah bertanya kepada mereka, bagaimana Changi bisa menjawab kebutuhan jutaan penumpang dari berbagai negara, sehingga membuat orang nyaman dan convenient. Atasan saya waktu itu bilang, otoritas Chamgi tiap hari berkeliling dan mencatat semua masalah atau apa yg bisa di perbaiki lebih baik lagi. Jadi ternyata Chamgi juga dalam desain awal gak langsung bagus dan lengkap, tapi setelah mulai di pakai mereka melihat dan melihat lagi apa yg bisa di perbaiki, di perindah dan lain lain, demikian juga mereka merawat dan memantain kota mereka.
Sebagai karyawan yg bekerja dengan mereka ini juga berupa tantangan, apakah sebagai individu kita improve? apakah adding value kita juga improve apa tanggung jawab baru yg mau kamu handle, jika sama saja dengan tahun kemaren, bisa dianggap kontribusi kedepan akan berkurang. Review setiap tahun selalu menjadi pijakan utk seorang karyawan dinilai, jika kurang di perbaiki, jika bagus gimana lebih bagus, jika tidak bisa di perbaiki, sorry to say, Company cant wait for you. Jadi peningkatan skill knowledge harus secara continue karena jika mereka sebagai employeer tidak melihat ada hal baru dari kita, atau kemampuan mengambil tanggung jawab baru dalam arti kata flat aja, penilaian kinerja akan sangat berpengaruh.
Entah mengapa bisa bekerja sampai 20 tahun bersama mereka karena ini banyak sekali menjadi pertanyaan dari teman teman, apalagi orang Minang biasanya akan melakukan usaha sendiri setelah 3-4 tahun bekerja sama orang lain. Tidak ada jawaban yg tepat tetapi bisa jadi diperusahaan ini diberi kesempatan berkembang yang sangat baik, mengimplementasikan ide ide yg diusulkan sehingga goal dari sebuah company dalam hal ini revenue bisa tercapai. Satu hal lagi kita memang hanya lean dengan kontribusi kita kepada perusahaan, mungkin ada tapi sejauh yg dialami, management tidak begitu melihat gender, asal kita dll untuk di beri tanggung jawab. Satu kata kunci Mampu.
Tanpa sadar business yang tadi nilainya Nol Rupiah akhirnya menjadi signifikan, tapi itu berkat create market yang sabar bertahun tahun. Itu salah satu pelajaran yg bisa dilihat juga. Keep doing good thing, sehingga yang terbangun network yang baik dengan customer, reputasi perusahaan dan banyak lagi. Ini akhirnya membuat situasinya stabil karena customer menjadi customer setia bahkan rayuan kompetitor yg datang belakangan dengan iming iming indah, tidak diacuhkan karena terjalin kerja sama yang baik selama ini. Apakah singapore juga sebagai negara juga berbuat hal yang sama terhadap orang orang yg bisa memberikan mereka dana dan investasi Semisal berbagai brand manufacture dari seluruh dunia datang membuat kantor di negara mereka dengan segala aturan yang jelas dan kemudahan proses serta transparansi. Satu minggu cukup untuk proses pendirian perusahaan dan sudah bisa transaksi.
Seorang temen saya resign dari kantor dan mau bikin usaha sendiri, ternyata disana boleh menggunakan apartemennya sebagai kantor karena kan perusahaan baru jadi belum ada income buat sewa ini itu. Tidak mau banding bandingin ya.. hehehhe. yang jelas jika proses usaha mudah, transaksi berjalan revenue meningkat, tentu saja secara financial nilainya meningkat akhirnya, rakyatnya bayar pajak. Bahkan sebuah perusahaan yg sudah cukup lama berdiri pun, diberi allowance supaya makin produktif. Pernah waktu itu complain di Head Quarter, mengapa kalian beli laptop, mesin Fotocopy, scanner dan semua alat kerja dalam jumlah yang besar, sementara kami di Jakarta minta approval beli satu unit saja lama prosesnya. Ternyata itu adalah program pemerintah Singapore, mereka di beri bantuan berbentuk alat kerja agar produktivitas perusahaan meningkat, sesuai dengan scale perusahaan tersebut. Output yg diharapkan disini adalah, kalo produktivitas naik, kan perusahaan bayar pajaknya juga naik. Jadi ceritanya, disana dimampukan dulu baru di harapkan bayar pajak. Bagaimana dengan.... ah sudahlah
Kesan awal saat awal kerja disana, interaksi dengan rekan disana cukup kaku lah, tapi setelah lama berinteraksi akhirnya bisa tahu orang singapore juga lucu lucu walau muka mereka muka sibuk dan stress. Bolak balik kesana untuk urusan kerja selama 20 tahun ya memang sudah cukup sering. bahkan karena sudah tahu makan dimana, mendarat di Changi kemana dulu atau sebelum terbang restaurant favourite yg selalu disinggahi. Serasa menjadi rumah kedua. Bahkan jika sempat 2 bulan tidak ada meeting off line atau kegiatan, penulis suka nonton TV Singapore hanya utk merasakan vibe lingkungan disana..Yang paling akrab di telinga adalah saat di Taxi mendengarkan saran dari uncle taxi driver, where to go.. atau tentang bagaimana mereka berbahasa inggris dengan gaya SingLish ternyata mereka menyadari kalo itu bukan proper inggris. Bahkan mengajarkan bagaimana translate malay ke bahasa inggris cara mereka, contoh nya, kalo bertanya dalam bahasa inggris, where do you go, uncle akan bertanya go where ? atau kalo mau makan apa, eat what ?. Akan sedikit bingung pada awalnya, pagi di kantor rekan disana nanya, you go spin last night?.. bingung kan, spin kalo gak salah sebuah benda berputar dengan memiliki sumbu atau pusat berputar, ternyata maksudnya did you go out/ around last night.
Di acara Company Dinner di beri reward untuk long service 20 tahun mendapat sebuah Plakat, sambil merenung saja, tidak pernah ada rencana bekerja dengan mereka segini lama, atau dibidang pengembangan sebuah bisnis. Dimana bidang bisnis adalah bidang yang sangat jauh dari latar belakang keluarga. Background orang tua sebagai Guru SD Pegawai Negeri Sipil lebih mengarahkan jadi pegawai negeri. Beberapa rencana sejak SMP adalah ingin Jadi TNI atau Pilot Pesawat tempur. Kalau tidak, kuliah di bidang sains di Universitas Negeri. Semua proses test masuk TNI yang dilewati gagal, lalu ikut test kuliah di Universitas yang di target kalo gagal jadi TNI, Juga gagal. Akhirnya Alhamdulillah dapat kuliah di Institut Pertanian Bogor sempat bekerja lalu lanjut ke UI . Setelah tamat UI lah baru bergabung dengan perusahaan ini.
Suatu hal yang merubah mindset selama ini adalah dinamika denyut bisnis yang dihadapi setiap hari. Ibarat kata mikirnya uang uang dan uang, tapi dengan cara membangun dan proses dengan akar yang kuat. Jadi tidak mengandalkan dalam porsi yang besar kedekatan dan bantuan dari siapa. Tapi membangun network reputasi, jasa, sehingga memiliki hubungan yang kuat disamping menjual product dengan kualitas yang bagus. Saat lagi di sana kalo ada keperluan meeting, berjalan keliling kota, Suasana Lunch discussion, Business Dinner discussion boleh kita liat dimana mana. Jika kita curi dengar pembicaraan mereka, kurang lebih bisnis talk, brain storming, planning dan lain lain. Mungkin ini artinya Time is money ya.
Cerita ini ditulis setelah menerima plakat 20 tahun service yang akhirnya menjadi topik sharing pengalaman bekerja dengan budaya berbeda tapi bisa "betah" sampai dua dekade. Disiplin dari sisi waktu, sharp dalam schedule jelas dalam paparan serta detail dalam rencana itu akhirnya menjadi kebiasaan, bahkan terbawa ke dalam kehidupan di keluarga. Walau kadang di cap sedikit nyinyir oleh saudara saudara.
Demikian dulu ceritanya ya karena sudah larut setelah acara company dinner, berharap perusahaan berjalan dengan baik dan penulis bisa menangani pekerjaan dengan baik. Amiiin
Komentar
Posting Komentar